Tata Cara Umroh Sesuai Sunnah: Urutan Rukun, Doa, dan Panduan Praktis Jemaah

Jemaah mengikuti panduan tata cara umroh sesuai sunnah di Tanah Suci

Memahami tata cara umroh sebelum tiba di Tanah Suci membantu jemaah menjalankan setiap rangkaian ibadah dengan lebih tenang. Ketika urutan ihram, tawaf, sa’i, hingga tahallul sudah dipahami, jemaah tidak hanya mengikuti rombongan, tetapi juga mengerti apa yang sedang dikerjakan dan mana yang termasuk rukun, wajib, maupun sunnah.

Dalam panduan manasik Kementerian Agama, rukun umrah terdiri atas ihram atau niat, tawaf, sa’i, bercukur atau tahallul, dan tertib. Kelima rukun tersebut harus dilaksanakan karena meninggalkan salah satunya menyebabkan umrah tidak sah.

Karena itu, mempelajari urutan ibadah umroh sebaiknya dilakukan sebelum keberangkatan dan diulang kembali saat manasik. Tidak semua amalan tambahan selama umrah memiliki kedudukan yang sama; ada yang menjadi rukun, ada yang wajib, dan ada pula yang sunnah.

Perbedaan Rukun dan Wajib Umroh

Rukun Umroh

Menurut Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah Kementerian Agama, rukun umrah meliputi:

  1. Ihram atau niat
  2. Tawaf
  3. Sa’i
  4. Bercukur atau tahallul
  5. Tertib

Rukun tidak dapat diganti dengan dam. Jika salah satu rukun belum dilaksanakan, rangkaian umrah belum sempurna atau tidak sah sampai rukun tersebut dipenuhi.

Wajib Umroh

Dalam panduan Kemenag 2024, wajib umrah adalah berihram dari miqat yang telah ditentukan. Jika seseorang melewati miqat tanpa berihram padahal seharusnya sudah berniat, umrahnya tetap dapat sah tetapi terdapat kewajiban dam sesuai ketentuan fikih.

Jemaah juga wajib menjaga diri dari berbagai larangan saat ihram. Perlu dipahami, konsekuensi setiap pelanggaran tidak selalu sama; ada yang berkaitan dengan fidyah atau dam dan ada pelanggaran yang konsekuensinya lebih berat. Karena itu, tanyakan kepada pembimbing apabila terjadi pelanggaran selama ihram.

Urutan Tata Cara Umroh Langkah demi Langkah

1. Ihram & Niat dari Miqat

Sebelum berihram, jemaah disunnahkan mempersiapkan diri dengan mandi, membersihkan diri, dan mengenakan pakaian ihram. Dalam panduan manasik Kemenag, shalat sunnah ihram dua rakaat juga dicantumkan sebagai amalan sunnah sebelum memulai ihram. Jika tidak sempat melaksanakannya, niat ihram tetap sah.

Bagi pria, pakaian ihram berupa dua lembar kain. Wanita memakai pakaian yang menutup aurat dan memenuhi ketentuan syariat.

Hal terpenting adalah jangan melewati miqat umroh tanpa niat ketika jemaah memang sudah wajib berihram dari titik tersebut.

Saat miqat, jemaah berniat masuk ke dalam ibadah umrah. Lafaz sederhana yang dapat dibaca adalah:

لَبَّيْكَ عُمْرَةً

Latin: Labbaika ‘umratan.

Artinya kurang lebih, “Aku memenuhi panggilan-Mu untuk melaksanakan umrah.”

Niat pada hakikatnya berada di dalam hati. Bagi jemaah yang ingin mempelajari waktu serta bacaan secara lebih rinci, baca panduan niat umroh lengkap waktu tata cara dan artinya.

Setelah berniat, perbanyak talbiyah dalam perjalanan menuju Makkah.

2. Menjauhi Larangan Ihram

Sejak niat ihram dilakukan, jemaah sudah berada dalam kondisi ihram.

Pria tidak mengenakan pakaian yang dibentuk mengikuti tubuh seperti kemeja dan celana serta tidak menutup kepala dengan peci atau topi. Jemaah juga menjaga diri dari menggunakan wewangian setelah niat, memotong rambut atau kuku, berburu, serta hubungan suami istri dan larangan ihram lainnya.

Jangan memahami larangan ihram hanya sebagai aturan pakaian. Menjaga perkataan, menghindari pertengkaran, serta memperbanyak zikir juga membantu menjaga kekhusyukan perjalanan.

3. Tawaf Mengelilingi Ka’bah

Setelah tiba di Masjidil Haram dan siap melaksanakan umrah, jemaah melakukan tawaf sebanyak tujuh putaran.

Tawaf dimulai sejajar dengan Hajar Aswad, kemudian mengelilingi Ka’bah dengan posisi Ka’bah berada di sebelah kiri. Satu putaran dihitung sejak Hajar Aswad hingga kembali sejajar dengannya.

Jemaah perlu memahami tata cara tawaf dengan baik, termasuk syarat sah tawaf dan cara melakukan istilam apabila kondisi memungkinkan.

Tidak ada kewajiban membaca satu doa tertentu untuk setiap putaran. Jemaah dapat berzikir, membaca Al-Qur’an, atau berdoa dengan doa yang dipahami selama tawaf.

4. Shalat di Maqam Ibrahim & Minum Air Zamzam

Setelah menyelesaikan tujuh putaran tawaf, jemaah disunnahkan shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim jika kondisi memungkinkan.

Jika area tersebut padat, tidak perlu memaksakan diri atau menghalangi arus jemaah. Shalat dua rakaat dapat dilakukan di tempat lain di area Masjidil Haram. Setelahnya, jemaah juga disunnahkan minum air Zamzam dan berdoa.

Tahap ini perlu dibedakan dari rukun umrah. Shalat setelah tawaf dan minum Zamzam adalah amalan sunnah, bukan rukun umrah.

5. Sa’i antara Bukit Safa dan Marwah

Selanjutnya jemaah menuju Safa untuk melakukan sa’i.

Perjalanan dari Safa menuju Marwah dihitung satu kali, lalu dari Marwah kembali ke Safa dihitung perjalanan kedua. Setelah tujuh perjalanan, sa’i akan berakhir di Marwah.

Pria disunnahkan berlari kecil di antara tanda hijau apabila kondisi fisik memungkinkan, sedangkan wanita berjalan seperti biasa.

Selama sa’i, jemaah dapat memperbanyak zikir dan doa. Tidak ada keharusan membaca doa yang berbeda untuk setiap perjalanan. Untuk memudahkan saat berada di Mas’a, pelajari bacaan doa sai sebelum keberangkatan.

6. Tahallul

Setelah sa’i selesai, jemaah melakukan tahallul dengan mencukur atau memotong rambut.

Dalam panduan manasik Kemenag yang banyak digunakan jemaah Indonesia, tahallul dilakukan dengan memotong sekurang-kurangnya tiga helai rambut. Ketentuan jumlah ini mengikuti praktik fikih yang umum digunakan di Indonesia dan terdapat perbedaan rincian di antara mazhab.

Bagi pria, mencukur seluruh rambut kepala lebih utama daripada sekadar memendekkannya apabila memungkinkan. Wanita cukup memotong bagian ujung rambut sesuai tuntunan.

Setelah tahallul selesai, jemaah keluar dari keadaan ihram dan larangan-larangan ihram berakhir.

7. Tertib

Rukun terakhir adalah tertib, yaitu mengerjakan rangkaian utama sesuai urutannya:

Ihram → Tawaf → Sa’i → Tahallul.

Kemenag memasukkan tertib sebagai salah satu dari lima rukun umrah. Artinya, rangkaian tersebut bukan aktivitas yang dapat dilakukan secara acak.

Jika terjadi kondisi khusus seperti sakit, lupa, haid bagi jemaah wanita, atau keraguan terhadap jumlah putaran, jangan mengambil keputusan sendiri hanya berdasarkan informasi singkat di internet. Konsultasikan dengan muthawwif atau pembimbing ibadah yang memahami kondisi jemaah.

Penutup

Memahami tata cara umroh sesuai sunnah membantu jemaah mengetahui mana yang menjadi rukun, wajib, dan sunnah. Bekal ilmu ini membuat pelaksanaan ihram, tawaf, sa’i, hingga tahallul terasa lebih terarah sekaligus mengurangi kepanikan ketika berada di tengah kepadatan jemaah.

Bagikan Artikel