Daftar Umroh
Daftar Haji
Badal Haji
Yanto | Hasan | Mumu | Lela
Daftar Umroh
Daftar Haji
Badal Haji
Yanto | Hasan | Mumu | Lela

Nava Tour

Dalil Umroh Beserta Hukumnya Menurut 4 Mazhab

Dalil Umroh Beserta Hukumnya Menurut 4 Mazhab

Allah telah menurunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi orang-orang beriman, termasuk menjelaskan terkait ibadah umroh. Ada beberapa ayat Al-Quran tentang anjuran ibadah umroh, begitu pula dengan hadist Rasulullah yang banyak menerangkan tentang dalil umroh, kewajiban dan hukumnya untuk umat muslim. Sebelum berangkat ke Tanah Suci, sebaiknya Anda mengetahui dan memahami dalil umroh apa saja yang melatarbelakangi ibadah tersebut beserta hukumnya.

Baca juga: Informasi Umroh Juli 2024

Dalil Umroh

Dalil umroh sangat dianjurkan untuk dipahami supaya nantinya Anda dapat menjalani ibadah umroh sesuai syariat yang ditetapkan. Banyak sekali ditemukan dalil-dalil umroh baik pada Al-Qurat maupun hadist, berikut penjelasannya :

1. Dalil Umroh Menurut Al-Quran

  • Al-Baqarah ayat 196 

وَاَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّٰهِۗ فَاِنْ اُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِۚ وَلَا تَحْلِقُوْا رُءُوْسَكُمْ حَتّٰى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهٗۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ بِهٖٓ اَذًى مِّنْ رَّأْسِهٖ فَفِدْيَةٌ مِّنْ صِيَامٍ اَوْ صَدَقَةٍ اَوْ نُسُكٍۚ فَاِذَآ اَمِنْتُمْۗ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ اِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِۚ فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلٰثَةِ اَيَّامٍ فِى الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ اِذَا رَجَعْتُمْۗ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌۗ ذٰلِكَ لِمَنْ لَّمْ يَكُنْ اَهْلُهٗ حَاضِرِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِࣖ

“wa atimmul-ḫajja wal-‘umrata lillâh, fa in uḫshirtum fa mastaisara minal-hady, wa lâ taḫliqû ru’ûsakum ḫattâ yablughal-hadyu maḫillah, fa mang kâna mingkum marîdlan au bihî adzam mir ra’sihî fa fidyatum min shiyâmin au shadaqatin au nusuk, fa idzâ amintum, fa man tamatta‘a bil-‘umrati ilal-ḫajji fa mastaisara minal-hady, fa mal lam yajid fa shiyâmu tsalâtsati ayyâmin fil-ḫajji wa sab‘atin idzâ raja‘tum, tilka ‘asyaratung kâmilah, dzâlika limal lam yakun ahluhû ḫâdliril-masjidil-ḫarâm, wattaqullâha wa‘lamû annallâha syadîdul-‘iqâb”

Artinya : “Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Akan tetapi, jika kamu terkepung (oleh musuh), (sembelihlah) hadyu yang mudah didapat dan jangan mencukur (rambut) kepalamu sebelum hadyu sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepala (lalu dia bercukur), dia wajib berfidyah, yaitu berpuasa, bersedekah, atau berkurban. Apabila kamu dalam keadaan aman, siapa yang mengerjakan umrah sebelum haji (tamatu’), dia (wajib menyembelih) hadyu yang mudah didapat. Akan tetapi, jika tidak mendapatkannya, dia (wajib) berpuasa tiga hari dalam (masa) haji dan tujuh (hari) setelah kamu kembali. Itulah sepuluh hari yang sempurna. Ketentuan itu berlaku bagi orang yang keluarganya tidak menetap di sekitar Masjidil Haram. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Mahakeras hukuman-Nya”

  • Al Imran ayat 97

فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًاۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًاۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَن الْعٰلَمِيْنَ

“fîhi âyâtum bayyinâtum maqâmu ibrâhîm, wa man dakhalahû kâna âminâ, wa lillâhi ‘alan-nâsi ḫijjul-baiti manistathâ‘a ilaihi sabîlâ, wa mang kafara fa innallâha ghaniyyun ‘anil-‘âlamîn”

Artinya : “Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) Maqam Ibrahim. Siapa yang memasukinya (Baitullah), maka amanlah dia. (Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam”.

2. Dalil Umroh Berdasarkan Hadist

dalil umrah

Sedangkan dalil umroh menurut Hadits Rasulullah SAW adalah sebagai berikut :

  • Hadits Sunah Menunaikan Umrah

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْعُمْرَةِ أَوَاجِبَةٌ هِيَ قَالَ لَا وَأَنْ تَعْتَمِرَ خَيْرٌ لَك

Artinya: “Nabi Muhammad SAW pernah ditanya perihal umrah, apakah ia wajib? Rasulullah SAW menjawab, ‘Tidak, namun jika engkau berumrah, itu lebih baik bagimu.'” (HR At-Tirmidzi).

  • Hadits Keutamaan Haji dan Umrah

العُمْرَةُ إلى العُمْرَة كَفَارَةٌ لِما بَيْنَهُمَا والحجُّ المَبْرُورِ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إلاّ الجَنَّة

Artinya: “Dari satu umrah ke umrah yang lainnya (berikutnya) menjadi penghapus dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR Muslim).

  • Hadits Kewajiban Menunaikan Umroh

الْعُمْرَةُ وَاجِبَةٌ كَوُجُوبِ الْحَجِّ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً

Artinya, “Umroh hukumnya wajib, seperti wajibnya haji, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.” (HR Anas bin Malik).

Hukum Umroh Berdasarkan 4 Mazhab

Hukum umroh menunai berbagai pendapat yang terbagi ke dalam 4 mazhab. Ada yang berpendapat wajib, namun ada yang mengatakan sunnah. Beberapa pendapat tentang hukum umroh menurut keempat mazhab, di antaranya :

  1. Mazhab Syafi’i, Hanbali, dan Malik

Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hambali sependapat bahwasanya hukum umroh adalah wajib dilakukan sekali semasa hidup bagi Anda yang mampu. Kemampuan di sini diartikan memiliki bekal perjalanan yang cukup dan mampu meninggalkan keluarga dalam keadaan yang terjamin. Pendapat ini dilandasi oleh firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 196 yang berbunyi :

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ

Artinya: “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah…,”

  1. Mazhab Hanafi dan Mazahab Malik

Sementara itu, menurut ulama Mazhab Hanafi dan Malik, hukum umroh itu sunah muakkad bagi setiap muslim. Landasan hukum bagi Mazhab Maliki dan Hanafi ini berdasar pada  salah satu riwayat at-Tirmidzi. Adapun riwayat ini berasal dari salah satu sahabat yang bertanya kepada Rasulullah perihal kewajiban umroh, yaitu :

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْعُمْرَةِ أَوَاجِبَةٌ هِيَ قَالَ لَا وَأَنْ تَعْتَمِرَ خَيْرٌ لَك

Artinya, “Nabi Muhammad saw pernah ditanya perihal umroh, apakah ia wajib? Rasulullah menjawab, ‘Tidak, namun jika engkau berumroh, itu lebih baik bagimu.” (HR at-Tirmidzi)

Dapat disimpulkan bahwa hukum umroh untuk umat muslim masih mendapatkan perbedaan respon. Hanya saja, mayoritas mengikuti mazhab Syafi’i yakni umroh hukumnya wajib dilaksanakan bagi seluruh umat muslim yang mampi memenuhi syarat untuk melaksanakannya.

Demikian penjelasan mengenai dalil umroh dan hukumnya berdasarkan empat Mazhab. Semoga informasi ini berkah dan bermanfaat.